Masa Pandemi

 Nama : Muhammad Nur Ilham

Nim : 20311115

Topik : pandemi

Tema : Aktivitas selama pandemi

Masa Pandemi

14 Maret 2020 kemarin menjadi pertama kali semuanya menjadi berubah total bagiku angkatan 2020. Pada awalnya virus corona kukira hanya sebagai virus biasa dan tidak mematikan. Namun kenyataannya secara cepat penyebaran corona begitu cepat. Berawal dari hanya 2 orang yang terjangkit virus corona hanya dalam beberapa bulan menjadi peringkat nomer 2 seasia tenggara negara penyebaran corona tertinggi. Efek yang paling aku rasakan saat itu sekolah secara tiba-tiba memberikan informasi bahwa sekolah diliburkan selama 2 minggu dengan alasan membantu memutus rantai penyebaran virus corona. Padahal ujian nasional sudah sangat dekat, tersisa 3 minggu lagi. Tidak ada persiapan dan kesiapan apapun yang aku rasakan. Apalagi sekolah memutuskan bahwa seluruh siswa dan siswi merubah pembelajaran menjadi daring (online) dirumah masing-masing, membuat aku semakin tidak paham tentang materi ujian nasional khususnya mata pelajaran matematika.

 Tidak ada tatap muka di sekolah lagi digantikan hanya dengan tugas, tugas, dan tugas pasti banyak siswa merasakan sama yang aku rasakan yaitu kelelahan dan tidak efektif. Karena aku mulai sadar waktu sudah sangat dekat dengan ujian nasional, aku mulai serius dan fokus belajar khususnya di tempat les GO (ganesha operation). Setiap hari aku mengikuti kelas tambahan dan kelas secara itensif. Untungnya aku memiliki teman teman akrab les yang sangat memberikan dampak positif. Hampir setiap hari mereka selalu mengajak kelas tambahan dan belajar bersama. Awalnya aku selalu menolak secara halus dengan memberikan beberapa alasan tidak bisa ikut. Tapi semakin lama karena merasa tidak enak aku memutuskan belajar Bersama mikha, Helga, riri, dan lain lain.  menilai mereka hanya orang-orang aneh yang hanya  terlalu ambisius mengejar masuk perguran tinggi negri ternyata salah besar. Orang orang seperti mereka sangat asik dan memberikan pengalaman baru buatku. Kita memiliki tujuan atau goals ber-7 harus bisa masuk perguruan tinggi. Tapi tuhan bertakdir lain, aku masuk perguruan tinggi swasta di universitas islam Indonesia sebab SBMPTN tidak lolos pada pilihan pertama, kedua, maupun yang ketiga.

Pada awalnya aku menilai les hanya sebuah formalitas untuk menyenangkan hati orang tua untuk mengejar nilai ujian nasional yang bagus dan SBMPTN lalu keterima di PTN (perguruan negri). Namun dari hari ke hari berawal les hanya sebuah formalitas bahkan terkadang lebih memilih untuk tidak datang les dan lebih memilih nongkrong di cafe atau warung pada akhirnya setelah proses beberapa minggu ikut belajar bersama Mikha, Helga, Riri, dan yang lainnya menjadikan les seperti kebutuhan dan aku enjoy dengan lingkungan orang-orang serius belajar yang dinilai banyak orang les hanya buang buang uang saja.  Lalu mentri pendidikan pak Nadiem Makarim secara tiba-tiba menginfokan ujian nasional untuk SMA dihapuskan dan syarat kelulusan diukur oleh nilai sekolah. Perasaan marah, sedih, lelah pada saat itu campur menjadi satu Seperti usaha yang sudah di lakukan selama ini sia-sia..

            Angkatan tahun 2020 inipun berbeda daripada angkatan sebelum-sebelumnya. Yang biasanya selalu ada wisuda, acara malam perpisahan, dan coret-coret baju tidak bisa dirasakan olehku karena terhalang aturan social distascing yang membuat tidak boleh adanya acara tersebut. Semuanya pasti merasakan sedih, tidak mudah bagiku menerima semua peristiwa yang telah terjadi. Memori 3 tahun bersama teman-teman di sekolah secara tiba-tiba harus hilang karena adanya pandemi ini. Aku yang sudah mempersiapkan pakaian terbaik untuk farewell party pun akhirnya tidak terpakai juga. Aku sudah membayangkan malam perpisahan yang paling berkesan dan menjadi malam terakhir paling bersejarah tetapi semua itu hanya sebuah wacana. Karena pada akhirnya semuanya dilakukan secara daring (online). Banyak orang berkata masa-masa SMA adalah masa paling indah namun tidak bagiku. Tapi setelah waktu berjalan, pandemi ini menjadikanku lebih dekat dengan tuhan. Yang awalnya ibadah sholat masih bolong-bolong menjadi 5 waktu karena hanya beraktifitas di rumah dan keluar jika sangat terdesak. Akupun percaya semua cobaan pasti ada hikmahnya. Allah pasti akan memiliki rencana yang lebih baik.

Setelah tau ujian nasional di hapuskan aku langsung fokus mengejar materi yang tertinggal pada materi ujian masuk perguruan tinggi jalur SBMPTN dan mandiri khususnya pada mata pelajaran ekonomi. Sebab penyebaran virus corona semakin banyak, lesku pada akhinya terpaksa di lakukan secara daring juga. Untuk kelas tatap muka langsung atau offline hanya dilakukan seminggu 3x dengan mematuhi protokol Kesehatan yang ketat seperti memakai masker, membawa face shield, cuci tangan sebelum masuk kelas dan diberi jarak 1 setengah meter untuk di setiap kursi. Tapi karena sudah terlalu lama dirumah, habbit positif yang sudah aku buat 2 bulan  perlahan mulai menghilang dan menjadikanku mulai malas lagi untuk belajar karena tidak ada teman-teman yang mengajak dan mengingatkan untuk belajar seperti sebelumnya. Tetapi terkadang kita masih bernisiatif untuk tetap belajar bersama melalui video call atau zoom.

Alhamdulillah karena pandemi ini pihak penyelenggara UTBK memutuskan untuk UTBK ditunda hingga 2 bulan lamanya. Yang recana awalnya UTBK pada bulan April menjadi bulan Juli dan materi yang di ujikan menjadi hanya TPS saja. Tidak ada tipe soal TKA seperti ekonomi, sejarah, geografi, dan sosiologi.  Hal itu memberikan keuntunganku untuk tidak usah repot-repot lagi belajar mata pelajran yang aku tidak terlalu menguasai. Tetapi karena hanya TPS yang diujikan membuat persaingan masuk PTN menjadi lebih ketat sebab tipe soal TPS dinilai tidak sesulit  tipe soal TKA.

 Ketertarikanku dan cita-citaku menjadi seorang pengusaha sukses pada dunia bisnis dan mempelajari seseorang membuatku memutuskan  untuk daftar jurusan psikologi dan manajemen bisnis pada UTBK. Semoga dengan masuknya di antara dua jurusan tersebut bisa menjadi bekal dan ilmu kedepannya pada saat membangun sebuah usaha. Khususnya pada perguruan tinggi negri favorit dua jurusan tersebut pada tahun ke tahun pasti selalu memilki peminat yang tingg dan selalu mengalami peningkatan.

Hari ujian UTBK pun tiba, di mulai tepat 6 juli 2020 aku mendapatkan sesi 1 pukul 09.00 WIB di fakultas farmasi kampus gajah mada. Ternyata benar, euphoria lingkungan di kampus favorit dan ternama Memang berbeda daripada kampus kampus biasa. Karena itulah membuatku grogi dan lumayan takut karena melihat peserta ujian lainnya seperti sudah benar-benar siap dan matang untuk mengikuti ujian tersebut. Bahkan aku mendapatkan ruangan ujian yang sama beberapa teman sekolahku. Dimulai dengan bacaan bismillah dan meminta doa kemudahan mengerjakan kepada tuhan aku mulai mengerjakan dengan tenang dan teliti. Walaupun pada awalnya ada perasaan gugup dan takut dengan membaca doa akhirnya aku bisa mengerjakan dengan baik. Akupun berserah diri kepada tuhan apapun hasil akhirnya setidaknya telah berusaha semaksimal mungkin. Menurutku keadaan ruangan ujian sangat berpengaruh, ruangan yang begitu dingin membuat beberapa siswa kedingin termasuk aku.

  Pihak panita UTBK pun memang benar-benar serius tentang jika ada yang berani melanggar peraturan yang tertulis jelas. Pada saat itu aku melihat salah satu panitia melihat salah satu peserta ujian ketahuan berbuat curang dengan cara melihat komputer orang di depannya. Karena posisi komputer pada setiap peserta dibuat zig-zag membuat kesempatan untuk merbuat curang semakin besar. Saat itu juga nama peserta tersebut langsung ditulis dan kirimkan datanya ke kantor pusat dan otomatis dianggap gugur dan tidak lolos. Kejujuran pada ujian ini dijunjung tinggi dan dihormati. Dengan kejadian itu menjadi pembelajaran buatku karena ternyata percaya pada kempuan diri masing-masing itu penting dan menjunjung tinggi kejujuran apapun keadannya.

Setelah 120 menit mengerjakan ujian akhirnya seluruh peserta diperbolehkan untuk keluar ruangan. Karena tidak terlalu tahan suhu ruangan yang menurutku dingin membuatku bergegas keluar ruangan. Aku saaat itu merasakan sangat lega, sebab ujian yang aku sudah persiapkan sejak lama akhirnya bisa terlewati juga. Perjuanganku tidak sampai situ, setelah menunggu sekitar satu bulan hasil pengumuman lolos tidaknya masuk perguruan tinggi negri yang sudah aku pilih aku mulai mencari berbagai info ujian mandiri kampus-kampus yang tersedia. Berbeda dengan jalur SNMPTN & SBMPTN Pada jalur mandiri uang cukup dipertaruhkan, tidak hanya total nilai atau skor UTBK. Tidak seperti pada jalur SBMPTN yang murni kemampuan setiap individu dan SNMPTN yang diseleksi pad raport 40% nilai tertinggi setiap sekolah lalu di seleksi lagi secara daerah dan akhirnya secara nasional. Jalur mandiri tidak semua mampu orang bisa mengikuti ujian jalur mandiri karena kebanyakan terhambat oleh masalah ketidaksanggupan finansial. Sebab pada kenyataannya Jalur mandiri biasanya calon mahasiswa di wajibkan membayar uang caturdharma atau uang pangkal yang tinggi dan UKT yang mahal. Penilaian penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri setiap kampus berbeda-beda.

Tepat setelah menunggu 1 bulan menunggu hasil ujian keluar, nilai skor UBTK akhirnya keluar. Lambang warna hijau dengan bertulisan ‘maaf anda belum lulus’ membuatku agak kecewa. Akupun tetap optimis dan mulai mencoba masuk jalur mandiri. Setelah berdiskusi dengan orang tua mana kampus yang cocok, aku mulai mendaftar lagi jalur mandiri di universitas gajah mada, soedirman, dan uns dengan mempertimbangkan jarak dan peluang kemungkinan lolos. Tetapi takdir berkata lain, ternyata di ujian jalur mandiri pun aku tidak lolos satupun universitas yang aku inginkan. Karena sudah tidak ada pilihan lain dan aku belum tertarik masuk kedinasan akhirnya aku memutuskan mencoba rencana awal yaitu mendaftar universitas negri di prancis atau universitas swasta di jogja. Orang tuaku sebenernya masih lumayan ragu aku mendaftar kuliah di prancis sebab prancis bukan negara yang dekat dan tidak tau kondisi dan situasi disana. Namun setelah melihat perjuanganku dengan serius akhirnya aku coba mendaftar.

Sebenarnya keinginanku lebih memilih melanjutkan kuliah di luar negri. Negri dengan terkenalnya icon ikonik menara Eiffel dan menjadi salah satu 7 keajaiban dunia yaitu Prancis. Sudah dari kelas 10 aku sangat menginginkan bisa melanjutkan kuliah di prancis di kota paris. Mulai belajar bahasa prancis di IFI (Institut Français Indonesia) Aku memilih belajar di IFI karena merupakan lembaga yang di kelola langsung oleh kedutaan prancis. Oleh karena itu, mulai dari belajar bahasa, budaya hingga seputar info negara Prancis khususnya universitas sangat lengkap. namun sayang corona membuat semuanya harus tertunda. Pendaftaran yang sebenarnya dibuka pada bulan-bulan akhir tahun menjadi ditunda karena pandemic yang berkepanjangan ini. Untuk sementara waktu kuliah terlebih dahulu di UII hingga menunggu dibukanya kembali pendaftaran kuliah negri di prancis.

Di tengah pandemi saat ini kuliahku full di lakukan secara daring (online). Pengen rasanya bisa merasakan OSPEK maba yang katanya pada pukul 6 pagi sudah harus hadir di kampus UII jl. Kaliurang dengan memakai setelan kopiah, baju putih, dan celana kain. Dari rumah harus berangkat dari setelah shubuh agar tidak terlambat karena jarak rumahku dan kampus lumayan jauh membutuhkan kurang lebih sekitar 45 menit. Pembelajaran banyak di lakukan secara virtual meeting zoom. Sering banyak kendala yang aku alami saat kuliah online. Pertama, mulai dari terkadang sinyal putus-putus membuat video pada aplikasi zoom menjadi tidak terhubung. Lalu tugas yang mau di kirim pada google classroom loading begitu lama. Kurang lebih itu adalah pengalamanku selama pandemi ini.

Comments